Rabu, 13 Juni 2012

tumbuhan mesofit


C.    TUMBUHAN MESOFIT
-       Pengertian
Tumbuhan mesofit adalah tumbuhan terrestris ( daratan ) yang tumbuh dalam kondisi tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering, sering dinamakan lingkungan mesik (Misra, 1980). Tumbuhan dalam kelompok ini tidak dapat tumbuh dalam habitat/ tanah yang jenuh air dan tanah yang kering. Contohnya vegetasi  hutan hujan, padang rumput, ladang atau kebun.  Komunitas mesofit terdiri rerumputan, semak, herba dan vegetasi hutan hujan tropis (Shukla dan Candel, 1996).
-       Pembagian kelompok tumbuhan mesofit berdasarkan komunitas vegetasi utama yang menyusunnya
1.         Komunitas rerumputan dan herba
Komunitas rerumputan dan herba merupakan komunitas yang vegetasinya tersusun vegetasi rumput dan herba semusim atau tahunan. Umumnya habitatnya mempunyai curah hujan tahunan sekitar 25-75 cm/tahunan. Komunitas vegetasi ini dibedakan atas beberapa tipe komunitas yaitu:
a.         Komunitas rumput dan herba di padang Arktik dan Alpine
Komunitas ini berada da daerah Arktik (kutub utara) dan di daerah puncak pegunungan Alpin. Tumbuhannya tersusun dari vegetasi semak yang lembut dan berukuran kecil. Vegetasi semak kadang bercampur dengan lumut bukan lumut kerak. Komunitas rumput dan herba terdiri 2 komunitas yaitu Komunitas rumput dan Komunitas herba yaitu tumbuhan herba dikotiledon seperti Delphinium sp, Potentill sp, Ranunculus sp, Saxifraga sp.




b.         Lapangan rumpu(Meadow)
Lapangan rumput (Meadow) sebagai penghubung antara jenis komunitas rumput yang tersusun dari tumbuhan mesofit dan hidrofit, yang tumbuhan di habitat yang tanahnya mengandung kadar air antara 60%- 80%. Vegetasi lapaangan rumput terdiri dari herba tahunan yang tumbuh subur dan rimbun, dan saling berdesakan (overcrowding). Tumbuhan umumnya berbatang tinggi, berakar rimpang (rhizoma). Daunnya berciri-ciri tumbuhan mesofitik yaitu berdaun tipis, lebar, tumbuh mendatar dan bentuk lainnya ‘globrous’. Tumbuhan- tumbuhan yang tumbuha dan hidup di daerah ini antara lain terdiri dari tumbuhan yang termasuk suku Compositae, Graminae, Papilionaceae, dan Ranunculaceae yang tumbuha melimpah.


c.         Ladang dan padang gembalaan (pasture dan cultivated)
Vegetasi ini umumnya mempunyai tumbuhan yang lebih  pendek daripada lapangan rumput dan habitatnya lebih terbuka. Vegetasi lading dan padang penggembalaan sering mengalami gangguan yang dilakukan oleh hewan perumput dan hewan herbivore lainnya. Tumbuhan yang tumbuh disini antara lain: rerumputan, herba, tanaman dikotil, dan beberapa jenis lumut.


2.         Komunitas tumbuhan berkayu (semak belukar dan hutan)
Komunitas tumbuhan berkayu dapat dikelompokkan dalam beberapa tipe yaitu
a.         Semak belukar Mesofitik
Komunitas vegetasi semak belukar mesofitik terdapat pada habitat yang kondisi lingkungannya tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman brerupa pohon yang akan membentuk vegetasi komunitas hutan. Kondisi tersebut sangat sesuai untuk habitat komunitas vegetasi herbal yang kadang- kadang membentuk vegetasi campuran antara tumbuha semak xerofitik dan mesofitik, seperti tumbuhan Salix sp,Arabis sp, Lathyrus sp, Vicea sp, dan sebagainya.



a.         Hutan Gugur daun (Deciduous florest)
Hutan Gugur daun bercurah tinggi sekitar 75-100 cm/ tahun dengan suhu udara sedang (moderat). Hutannya terdiri pohon yang menggugurkan daunnya ketika suhu kering dan panas seperti di daerah tropika. Pepohonan ini mengandung mikroflora dan akarnya mengandung mikorhizza. Tumbuhan epifit seperti lumut dan lumut kerak tumbuh melimpah di permukaan batang pohon. Sebagian besar tumbuhan di hutan gugur daun penyerbukannya dilakukan oleh angin. Hutan gugur daun diberinama berdasarkan pohon-pohon dominanyang membentuk asosiasi hutan Quercus spp, hutan Betula spp, hutan Fagus spp.
Pada daerah tropis bermusim kering dan musim jelas, pepohonannya akan bersifat tropofit yaitu tumbuhan mesofit selama musim hujan tumbuhan tropofit menjadi xerofit. Dedaunan akan mulai gugur pada permulaan musim hujan dan musim kemarau. Tumbuhan bersifat tropofit beradaptasi terhadap kekeringan dan musim hujan bersifat tunasnya berpelindung lebih baik, kulit pohon mempunyai lapisan pelindung (epidermis) tebal dan modifikasi batang yang tumbuh di dalam tanah akan bertunas pelindung terhadap kekeringan dan kedinginan. Contoh Tumbuhan Conifer, missal pohon Tusan (Pisum spp).



b.         Hutan yang selalu hijau (Evergreen Forest)
Hutan ini ditemukan di daerah tropis, subtropics, daerah beriklim sedang (temperate) di bumi bagian selatan. Pepohonan di hutan Evergreen biasanya daunnya selalu hijau selam setu tahun sampai daun baru muncul.



Terdapat 3 macam hutan  evergreen yaitu
1)        Hutan Antartika, tumbuh di New Zaeland dan daerah lainnya. Suhu udara tahunannya berkisar 5° C- 70°C dengan curah hujan banyak sepanjang  tahun. Pohon penyusun  hutan ini adalah pepohoana suku Coniferaceae, Myrtaceae, Hymenophyllaceae, tumbuhan lumut hati.


2)        Hutan subtropics
Hutan ini terdapat di daerah curah hujan cukup tinggi, tetapi tidak mempinyai perbadaan suhu yang besar antara musim dingin dan musim panas. Hujan pada umumnya jatuh pada musim panas, jarang terjadi pada musim dingin. Hutan subtropics terdapat antara lain di bagian timur Amerika Serikat, Brazilia bagian selatan, Afrika Selatan, Australia Selatan, Australia Timur, Cina bagian selatan dan Jepang. Pepohonan ini mencapai tinggi sekitar 30 m terdiri dari pohon asam (Tamarindus sp), magnolia (Magnolia aciminata), pohon Oak (Quercus spp) dan lumut-lumutan.


3)        Hutan-hutan tropika
Hutan ini terdapat di daerah tropis sekitar khatulistiwa dengan curah hujan 1800mm/ tahun, suhu udra rata-rata lebih dari 24 °C. hutan hujan tropika terdapat di bagian tengah dan selatan Amerika, Afrika Tengah, Kepulauan Pasifik, Brazilia, Indonesia, Malaysia, dan kawasan tropis lainnya.
Hutan ini merupakan hutan yang kepadatan pohonnya sangat tinggi dan jarang terganggu oleh komponen biotic lain dalam proses suksesinya sehingga dinamakan hutan pemula (primeral forest) yang menjadi vegetasi klimaks di seluuruh dunia. Hutan ini  berciri kelembaban tinggi sekitar 95%, suhu udara tinggi, hujan hampir tidak setiap hari, tidak terdapat musim kering yang berarti, tanahnya kaya akan humus, berwarna gelap, mempunyai porositas yang tinggi.
Vegetasi hutan hujan tropis bervegatasi subur kaya akan jenis dan tersusun dari tumbuhan suku Lauraceae, Leguminoceae, Moraceae, atau Myrtaceae. Vegatasi ini berlapisan stratifikasi pohon yang jelas terdiri pohon mencapai tinggi 40-50 m, disertai tumbuha bawah berupa semak, herba, lumut, Selaginella sp, dan sebagainya. Di akar pepohonanya sering tumbuh jamur/ mikhorhiza, saprofit, parasit  seperti Raflessia spp, Balanophora sp, Monotrapa sp, dan pada batangnya  sering terdapat tumbuhan epifit dan liana.


Selain terdapat kelompok adaptasi tumbuhan berdasarkan ketersediaan air dan lingkungannya (kelompok hidrofit, xerofit, mesofit) menyebutkan pula terdapat kelompok tumbuhan yang beradaptasi pada tumbuhan lain sebagai tempat tumbuh dan hidup disebut tumbuhan Epifit, dan kelompok tumbuhan yang telah beradaptasi terhadap lingkungan rawa payau (tumbuhan halofit) disebut tumbuhan Mangrove atau tumbuhan bakau (Kusuma dan Ismono, 1995).

D.      TUMBUHAN EPIFIT
Nama epifit berasal dari bahasa Latin, “epi”= di atas, “phyton”= tumbuhan, dan “epiphyton”= tumbuhan yang tumbuh di atas pohon. Secara harfiah, tumbuhan epifit adalah tumbuhan yang tumbuh di atas tumbuhan lain. Secara umum, epifit adalah tumbuhan ototrof yang tumbuh pada permukaan tumbuhan tempat bertumpu secara tetap dan tidak berakar di tanah. Epifit disebut pula “tumbuhan aerofit” (aerophyta) yaitu suatu tumbuhan yang hidup di udara. Contohnya antara lain anggrek (Vanda teres), simbar menjangan (Platycerium bifurcatum), pakis duwit (Drymoglosum pilaselloides), beberapa jenis alga, lumut (Tortura pagorum) atau lumut kerak, misalnya Palmeria sp.
Epifit menyerap air dari atmosfir dan menyerap unsur-unsur hara dan mineral dari kulit batang yang membususk dari pohon tempat bertumpu. Karena tumbuhan epifit bersifat ototrof, tumbuhan tersebut mensintesis karbohidrat dari air dan COsendiri dari atmosfir dengan bantuan sinar matahari yang membedakannya dengan tumbuhan parasit atau liana karena tumbuhan epifit tidak berakar di tanah.
Habitat dan sebaran epifit bermacam-macam, seperti di permukaan tumbuhan air yang terendam, permukaan batang dan percabangan pepohonan, dan permukaan daun, batu-batuan dan sebagainya. Vegetasi epifit terutama tumbuhan lumut, tumbuh melimpah di daerah yang lembab dan sejuk, tetapi sangat sedikit tumbuh di daerah yang kering dan beriklim dingin. Di daerah yang hangat dan basah, pada batang pohon yang berlumut sering didominasi oleh tumbuhan epifit dari suku Bromeliaceae dan Orchidaceae yang tumbuh melimpah. Di daerah hujan tropis, jenis-jenis epifit umumnya terdapat di batang atau cabang di puncak-puncak pohon xerofit, sedangkan di bagian bawah batang pohonnya tumbuh-tumbuhan “hygrofita” (“hygrophytes”), yaitu tumbuhan yang menyukai kelembaban yang tinggi dan naungan.
Tumbuhan epifit ternyata terdapat pada bermacam-macam habitat. Beberapa jenis tumbuhan epifit tumbuh di permukaan tumbuhan akuatik yang separuh tenggelam, sedangkan tumbuhan lainnya cenderung merupakan tumbuhan yang menempati batang pohon atau cabang, bahkan tumbuh di lamina daun (aerial). Selain itu tumbuhan epifit dapat pula tumbuh di batu bahkan di tiang dan kawat telepon. Tortura pogorum adalah tumbuhan epifit berupa lumut (moss) yang pada umumnya tumbuh di batang pohon di daerah perkotaan karena memerlukan lingkungan dengan suhu yang tinggi dan udara yang mengandung asap untuk pertumbuhannya yang normal.

1.    Adaptasi Struktural
Karena tumbuhan epifit kebutuhan airnya tergantung dari hujan, embun dan uapi air di udara maka tumbuhan epifit dapat beradaptasi secara struktural untuk dapat menyimpan air dan mengurangi kehilangan atau kekurangan air. Adaptasi struktural yang terpenting adalah sebagai berikut:
a.       Adaptasi morfologi
1)      Akar
Pada tumbuhan epifit berpembuluh (vascular plants) sistem perakarannya tumbuh berkembang dengan baik dan luas, dan terdapat 3 jenis sistem perakaran, yaitu :
a)      Akar penyerap (absorbsi), akar yang berfungsi menyerap air, mineral dan bahan organis sebagai nutrien dari celah-celah kulit batang pohon yang lembab dan telah membusuk yang menjadi tempat tumbuhan epifit tumbuh,
b)      Akar pelekat (clinging roots), akar yang berperan agar tumbuhan epifit tetap melekat di permukaan batang pohon tempat tumbuh dan menyerap nutrien dari humus dan debu yang terakumulasi di permukaan kulit batang tumbuhan inang,
c)      Akar udara (aerial roots), akar yang posisinya menggantung di udara untuk menyerap air dari atmosfir dan berwarna hijau (mengandung klorofil) sehingga dapat melakukan fotosintesis.


2)      Batang
Batang tumbuhan epifit berpembuluh maupun tidak (non-vascular plants), berkembang dengan baik atau tidak. Beberapa jenis tumbuhan epifit kadang-kadang pada batangnya membentuk batang “succulent” untuk menyimpan air yang bentuknya, seperti umbi (tuber) atau gelembung, seperti bola palsu (pseudobulbous).
3)      Daun
Daun tumbuhan epifit pada umumnya mempunyai helai daun yang terbatas, beberapa jenis anggrek bahkan hanya mempunyai satu helai daun pada musim pertumbuhan. Kadang-kadang daunnya berdaging dan mempunyai lapisan epidermis pada kulit. Pada tumbuhan Dischidia nummularia, Platycerium bifurcatum, Asplenium nidus, daunnya berubah atau mengalami modifikasi menjadi seperti kendi (“pitcher”).
4)      Buah, biji dan penyebarannya
Buah dan biji tumbuhan epifit pada umumnya disebarkan oleh angin, insekta dan burung. Jika biji jatuh pada permukaan batang pohon atau tempat lainnya dan lingkungan yang sesuai maka bijinya akan berkecambah dan tumbuh menjadi tumbuhan baru.
b.    Adaptasi anatomi
Tumbuhan epifit memiliki ciri-ciri struktur anatomi organ-organ tumbuhan seperti berikut :
1)      Lapisan kutikula pada daunnya tebal dan stomata berbentuk cekungan yang terbenam (kriptofor) berada di bawah permukaan epidermisnya dan berguna untuk mengurangi transpirasi dan kehilangan air, sedangkan pada sel organ yang berperan untuk menyerap air seperti akar dan daun, epidermisnya tidak berkutikula.
2)      Pada tunmbuhan epifit yang berbatang “succulent” mempunyai jaringan yang berkembang dengan baik sebagai tempat penyimpanan cadangan air.
3)      Pada akar udara (aerial roots) beberapa tumbuhan epifit di daerah tropis seperti pada suku Araceae dan Orchidaceae, akan terbentuk jaringan parenkima yang disebut jaringan “velamen”, yaitu suatu jaringan yang bersifat higroskopis yang berperan untuk menyerap air dari atmosfir. Velamen mempunyai “eksodermis” yang terdiri dari sel-sel yang dindingnya tebal berlignin dan permeabel terhadap air. Velamen menyerap dan menahan uap air yang diserap melalui sel pelalu (passage cell) pada eksodermis (Hidayat, 1995).
4)      Struktur anatomi organ lainnya serupa dengan struktur anatomi tumbuhan mesofit.
2.    Macam-macam Tumbuhan Epifit
Shimper (dalam Shukla dan Chandel, 1996), telah membagi tumbuhan epifit menjadi 4 tipe, yaitu:
a.       Protoepifit
Tumbuhan epifit ini mendapatkan nutrien sebagai sumber makanannya dari permukaan tempat tumbuhnya (batang pohon, daun atau batu) dan atmosfir. Tumbuhan epifit ini tidak membentuk struktur organ adaptasi khusus, kecuali akar udara dan velamen. Misalnya Peperonis sp, Dischidia nummularia, dan beberapa tumbuhan paku-pakuan epifit.
b.      Hemiepifit
Tumbuhan epifit pada mulanya tumbuh di permukaan batang pohon atau tempat lainnya, tetapi kemudian berhubungan dengan tanah melalui akar udara, misalnya Scindapus officinalis. Selain itu dapat pula terdiri dari tumbuhan yang batangnya memanjat dan melekat di tumbuhan yang ditumpanginya kemudian putus hubungan dengan tanah karena batang bagian bawahnya yang terdapat di tanah secara berangsur-angsur mati, dan sisa ujung batangnyatumbuh sebagai tumbuhan epifit. Tumbuhan macam ini dinamakan tumbuhan “pseudoepifite”.
c.       Epifit Sarang
Tumbuhan epifit ini mempunyai organ tubuh yang berkemampuan untuk memperoleh air dan humus dalam jumlah yang cukup untuk kehidupannya melalui sistem perakarannya yang bentuknya seperti sarang. Contohnya adalah anggrek kalajengking (Arachnis mangayi), anggrek merpati (Dendrobium crumenatum), atau anggrek bulan (Phalaenopsis anabilis).
d.      Epifit Kantung Air
Tumbuhan epifit ini mempunyai akar yang bentuknya seperti jangkar dan terdiri dari jalinan serabut fibrosa yang berkembang dengan baik yang berfungsi sebagai kantung untuk penyerapan dan tempat penyimpanan air. Selain itu daunnya juga dapat menyerap air dan melakukan proses fotosintesis. Contohnya adalah Nidularium sp, Tillandria sp, dan beberapa jenis tumbuhan epifit yang termasuk dalam suku Bromeliaceae (Suswanto Rasidi. 2004: 6.24-6.27)



E.   TUMBUHAN HALOFITA DAN VEGETASI MANGROVE
1.      Tumbuhan Halofita
Berbagai jenis tumbuhan tertentu dapat tumbuh dan hidup di habitat yang mengandung kadar garam yang tinggi. Tumbuhan yang hidupnya demikian dinamakan tumbuhan halofita (halophytes). Misra (1980) menyebutkan tumbuhan halofit sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di habitat tanah atau air yang kaya akan senyawa garam (antara lain NaCl). Beberapa jenis tumbuhan seperti Bit (Beta vulgaris) atau Alfalfa (Alfalfa lucerne) yang bukan merupakan tumbuhan halofit, tetapi tumbuh di tanah yang bergaram dan disebut dengan tumbuhan “halofit fakultatif”


             
Dalam lingkungan tanah atau perairan dengan kadar garam yang tinggi, sebenarnya tumbuhan halofit kadang-kadang tumbuh di lingkungan yang kadar airnya cukup (jernih), tetapi sebenarnya cukup tersedia air yang diperlukan. Hal ini karena tingginya kadar garam di dalam tanah atau perairan tersebut sehingga air tidak dapat diserap oleh tumbuhan yang tumbuhan di habitat tersebut. Untuk itu tumbuhan halofit harus mempunyai toleransi atau beradaptasi pada lingkungan yang secara fisik basah, tetapi secara fisiologis kering. Toleransi atau adaptasi yang dilakukan tumbuhan halofitnpada umumnya dengan mengakumulasi garam dan mensekresikannya kembali atau menyimpannya dalam organ khusus di dalam daun yang disebut “kelenjar garam” (salt gland) dan membatasi perkecambahan, pertumbuhan atau reproduksi pada musim-musim tertentu.
Jenis-jenis tumbuhan yang tumbuh pada relung ekologi yang habitatnya berkadar garam cukup tinggi (walaupun jauh dari laut) yang mengandung NaCl, CaSO4, atau KCl dan akan berkurang pada musim hujan disebut tumbuhan “pseudo halofit” (halofit semu). Jenis-jenis tumbuhan tersebut antara lain adalah  Chaenopodium album, Sueda fructicosa atau Tamarix articulata. Tumbuh-tumbuhan ini sering membentuk komunitas yang vegetasinya melimpah dan membentuk formasi “mikro edafik”.
Tamarix articulate
(Sumber : http/google/imagesearch/29/05/2012)


Stocker pada tahun 1933 (dalam Shukla dan Chandel, 1996) adalah peneliti yang pertama kali mengelompokkan habitat yang mengandung garam (saline habitat) dengan tumbuhan yang telah beradaptasi pada habitat tersebut. Habitat tersebut adalah :
a.       Habitat Akuatik-halin, misalnya Avicennia spp atau Rhizophora spp

b.      Habitat Teresto-halin, terdiri dari Habitat Higrohalin dan Habitat Mesohalin dan habitat Xerohalin, misalnya Spartina sp dan Sueda maritime
c.       Habitat Aero-halin, terdiri dari habitat yang terkena siraman atau percikan garam dari lingkungan laut dan habitat yang terkena debu garam dari lingkungan padang garam., misalnya Aegicera corniculatum atau  Sechium edule. Selain itu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dan hidup pada habitat yang tanah atau perairannya berkadar garam (NaCl) antara 0,01-0,1% disebut “tumbuhan oligofit”, antara 0,1-1% disebut “tumbuhan mesohalofit”, dan >1% disebut “tumbuhan euhalofit”

                  Garam-garam terlarut pada umuumnya akan berpengaruh terhadap tumbuhan halofit pada tekanan osmotik dan berbagai reaksi kimi di dalam sel. Ciri-ciri toleransi dan adaptasi yang penting yang menandai tumbuhan halofit adalah sebagai berikut :
1.      Tumbuhan yang tumbuh di tanah yang mengandung garam pada umumnya berkecambah, tumbuh dan berkembang di musim hujan ketika kadar garam mengalami pengenceran dan berada di bawah zona perakaran.
2.      Pada kebanyakan tumbuhan, perkecambahan dan pertumbuhan biji akan terhambat dan tidak dapat tumbuh pada lingkungan berkadar garam, sedangkan pada tumbuhan tertentu pertumbuhan kecambah dan biji dapat berlangsung secara “vivipari”, misalnya pada tumbuhan bakau  (Rhizophora spp) yang mempunyai hipokotil yang telah masak dan berkecambah di atas pohon
3.      Tumbuhan halofit pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang dangkal, akarnya yang ada di permukaan akan berguna untuk menyerap nutrien dan membantu aerasi karena akarnya terendam air hujan atau air laut.
4.      Kebanyakan tumbuhan halofit merupakan tumbuhan berdaging tebal, mengandung air dan bersifat “succulent” karena pengaruh garam-garam yang terlarut dalam tanah, khususnya ion-ion khlorida yang menstimulasi ciri-ciri tersebut.


2.      Tumbuhan Mangrove
Tumbuhan halofit yang termasuk dalam kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yang kebanyakan tumbuh dan hidup di rawa-rawa pantai. Dapat dibagi menjadi 2 buah kelompok, yaitu :
a.       Tumbuhan halofit yang tumbuh terendam air laut (hidrohalofit) yang terdiri dari tumbuhan mangrove
b.      Tumbuhan payau di tepi pantai (higrohalofit) yang terdiri dari tumbuhan rawa pantai (salt marsh) dan tumbuhan yang berada di dataran tinggi di tepi laut (aerohalofit)
Salah satu vegatasi halofit yang penting yang tumbuh di perairan rawa payau di tepi pantai yang membentuk suatu komunitas vegetasi yang khas dan dipengaruhi oleh pasang surut adalah vegetasi mangrove. Vegetasi mangrove pada umumnya terdiri dari komunitas vegetasi halofit yang terbentuk dari berbagai formasi tumbuhan berupa pepohonan dan semak. Tumbuhan mangrove pada umumnya tumbuh lebat di kawasan pantai yang berlumpur, delta muara sungai besar, laguna dan teluk yang terlindung (estuaria) atau di pulau-pulau karang yang pantainya berpasir (Sukardjo, 1984)
Komunitas vegetasi hutan yang terdapat dan tumbuh di habitat payau disebut “vloedbosh” atau hutan pasang surut atau lebih sering dinamakan hutan mangrove, sering padanannya dinamakan juga hutan bakau (Kartawinata, dkk, 1978). Berdasarkan kondisi ekologi lingkungannya, tumbuh-tumbuhan yang terdapat di hutan bakau atau hutan mangrove mempunyai kebutuhan ekologi yang disukai atau ekologi preferensi (ecological preference) tertentu. Menurut Steenis (1958), Misra (1980) dan Sukhla dan Chandel (1996), ekologi preferensi tumbuhan mangrove adalah sebagai berikut :
1.      Perairan yang dangkal berlumpur tebal
2.      Habitat berlumpur atau berpasir yang selalu terendam air payau yang kaya akan materi organic
3.      Terdapat di kawasan tropis atau subtropis yang mempunyai kelembaban dan curah hujan yang cukup tinggi
4.      Tumbuhannya mempunyai ketahanan terhadap salinitas, frekuensi genangan dan kedalaman tertentu, serta tahan terhadap arus dan ombak
5.      Kondisi perkecambahan dan pertumbuhannya sangat berkaitan dengan faktor-fktor tersebut di atas
Ciri-ciri adaptasi yang terpenting dari tumbuhan bakau, antara lain :
1.      Daunnya mempunyai sel epidermis, kutikula yang tebal dan jaringan palisade yang berkembang dengan baik. Daunnya mempunyai kapaitas untuk menyimpan air.
2.      Mempunyai sistem jaringan akar berupa akar napas atau pneumatofora (Avicennia spp), akar tunjang (Rhizophora spp), dan akar lutut (Bruguera spp)


3.      Mempunyai akar pneumatofora geotropik negatif yang berfungsi untuk bernapas
4.      Perkecambahan biji berlangsung di dalam buah dan membentuk hipokotil yang bentuknya memanjang (vivipari) sehingga jika jatuh dapat menancap di lumpur, misalnya pada Rhizophora spp
Watson (dalam Sukardjo, 1984), mengelompkokan vegetasi mangrove menjadi 2 kelompok, yaitu :
1.      Kelompok utama yang terdiri dari suku Rhizophoraceae dan marga Sonneratia, Avicennia dan Xylocarpus
2.      Kelompok tambahan yang terdiri dari tumbuhan Excoecaria agallocha, Acrostichum aureum, Acanthus ilicifolius, dan sebagainya
Di hutan mangrove, terdiri dari tumbuhan mangrove berupa pohon, komunitas vegetasinya sering bercampur dengan tumbuhan bukan mangrove (kelompok tambahan) berupa pohon, perdu atau semak yang tumbuh di lantai hutan atau di hutan bakau yang terbuka. Jenis-jenis tumbuhan tersebut antara lain  Nypa fructicans, Pandanus spp, Phragmites karka, Glochidion littorale, Acrostichum aureum (paku laut), Acanthus ilicifolius (jeruju), dan sebagainya.
Komunitas mangrove di Indonesia tercatat 35 jenis tumbuhan berupa pohon, 9 jenis terna, 5 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit, dan 2 jenis tumbuhan parasit. Selain itu, jenis-jenis tumbuhan umum yang terdapat di hutan mangrove dari laut ke darat, antara lain adalah Avicennia spp, Sonneratia caseolaris, Rhizophora spp, Xylocarpus granatum, Lumnitzera spp,Bruguiera spp,Excoecaria agallocha, Baringtonia spp, Pandanus tectorius, Acanthus spp, Acrostichum aureum, dan beberapa jenis paku-pakuan dan anggrek (Sukardjo, 1984).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar